View most interesting 'natural' photos on Flickriver

Suluk Sunan Bonang (cuplikan)

13 Agustus, 2008 13 komentar

DI kalangan ulama tertentu mungkin peranan Sunan Bonang dianggap tidak begitu menonjol dibanding wali-wali Jawa yang lain. Tetapi apabila kita mencermati manuskrip, justru Sunan Bonang yang meninggalkan warisan karya tulis paling banyak, berisi pemikiran keagamaan dan budaya bercorak sufistik.

Berikut beberapa cuplikan Suluk-suluk Blio

Dalam Suluk Kaderesan, Sunan Bonang menulis:

Jangan meninggikan diri
Berlindunglah kepada-Nya
Ketahuilah tempat sebenarnya jasad ialah roh
Jangan bertanya
Jangan memuja para nabi dan wali-wali
Jangan kau mengaku Tuhan
.

Dalam Suluk Ing Aewuh ia menyatakan:

Perkuat dirimu dengan ikhtiar dan amal
Teguhlah dalam sikap tak mementingkan dunia
Namun jangan jadikan pengetahuan rohani sebagai tujuan
Renungi dalam-dalam dirimu agar niatmu terkabul
Kau adalah pancaran kebenaran ilahi
Jalan terbaik ialah tidak mamandang selain Dia
.

Semoga manfaat …

Kategori:Catatan Harian

Nusantara, Pusat Peradaban Dunia

8 Agustus, 2008 42 komentar

Nenek moyang bangsa Nusantara, khususnya Pulau Jawa adalah pencipta kebudayaan dunia. Leluhur bangsa Nusantara (Indonesia) merupakan manusia-mansuia tangguh dan cerdas, pencipta peradaban dunia. Bahkan jauh sebelum tahun masehi, kerajaan nusantara adalah penguasa duapertiga wilayah bumi. India dulu hanyalah salah satu kadipaten dari kerajaan yang berpusat di pulau Jawa. Sumber dari peradaban dunia bisa dikatakan semuanya bermula dari Nusantara.

Semuanya memberikan kita gambaran bahwa nenek moyang bangsa Indonesia bukan orang-orang terbelakang. Kalau kemudian sejarah dunia saat ini tidak memposisikan peradaban nusantara sebagai sumber dari peradaban dunia, maka itu tidak lebih bagian dari kerja-kerja ilmuwan dari belahan dunia barat yang ingin mengingkari realitas.

Saya terkejut mendengar penjelasan ini dari seorang teman baru ketika saya usai mengikuti sebuah acara beberapa waktu lalu di Semarang. Teman ini orang Semarang, tetapi kini merasa lebih enjoy bermukim di Jogja. Raut wajahnya nampak serius menceritakan semuanya kepada saya yang menunjukkan ia sungguh-sungguh. Baca selanjutnya…

Kategori:Cinta Tanah Air

Acintya

4 Agustus, 2008 Tinggalkan komentar

Dua makna yang dapat diurai berkaitan dengan “Acintya” ini.
Pertama, Acintya sebagai suatu istilah yang didalam kitab suci Bhagavadgita II.25, XII.3 atas Manawadharmasastra I.3 disebut dengan kata: Acintyah, Acintyam atau Acintyasa yang artinya memiliki sifat yang tidak dapat dipikirkan. Dalam bahasa Lontar Bhuwana Kosa, “Acintyam” bahkan diberi artian sebagai “sukma tar keneng anggen-anggen”: amat gaib dan tidak dapat dipikirkan. Lalu siapa yang dikatakan memiliki sifat tidak dapat dipikirkan itu, tidak lain dari Sang Paramatman (Hyang Widhi) termasuk Sang Atman itu sendiri. Jadi, sebagai suatu istilah, “Acintya” mengandung makna sebagai penyebutan salah satu sifat kemahakuasaan Tuhan.

Kedua, Acintya sebagai symbol atau perwujudan dari kemahakuasaan Tuhan itu sendiri. Bahwa apa yang sebenarnya “tidak dapat dipikirkan” itu ternyata “bisa diwujudkan” melalui media penggambaran, relief atau pematungan. Maka muncullah gambar Acintya di atas selembar kain putih sebagai “ulap-ulap” ketika ”melaspas atau ngenteg linggih” sebuah pura. Atau relief Acintya di bagian “ulon” (Singgasana) Padmasana atau dalam bentuk patung/arca tersendiri. Kesemua bentuk symbol Acintya yang diwujud-nyatakan itu mengandung makna sama yaitu sebagai penggambaran dari kemahakuasaan Tuhan. Dengan mewujud-nyatakan simbol yang sebenarnya “tidak terpikirkan” itu dikandung maksud agar umat berada pada situasi di mana emosi religinya sangat dekat dengan Tuhan. Baca selanjutnya…

Kategori:Agomo

Seruling Kakua

2 Agustus, 2008 2 komentar

 

Tanpa seorang teman, seorang guru turun dari sebuah padepokan agung diatas gunung sa’ada. Kali ini ia tak lagi menggunakan jubah kesayangannya juga kebesarannya yang tiap kali pengajian menjadi rebutan untuk mengharap berkahnya tak lagi terlihat.

Bukan hanya penampilannya saja yang berubah, sikapnya juga kian lunak. Dalil-dalil yang biasa menghiasi setiap petuahnya tak lagi mudah untuk ditemukan. Diam seolah menjadi pilihan terbaik yang dilakukannya malam ini. Banyak tetangga kampong jadi bertanya-tanya, termasuk saimin santrinya yangn doyan berprasangka.

“guru sesungguhnya ilmu baru apa yang telah engkau bawah dari padepokan agung diatas sana?” yang ditanya hanya menjawab satu kali saja ” saat berangkat aku sungguh berniat mengisi jubahku dengan bunga-bunga mauidhotil hasanah. Bila aku kemballi akan aku bagikan kepada kalian bunga-bunga nasihat menyenangkan itu. Tapi apa boleh buat, sesampainya diatas padepokan sa’ada keindahan tamannya telah membuatku menangalkan jubahku. Baca selanjutnya…

Kategori:Kisah

Al-Kauni

29 Juli, 2008 1 komentar

“Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami”

“Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”

Kategori:Opiniku

Masnawi Rumi (cuplikan)

28 Juli, 2008 10 komentar

                                              SEBERAPA JAUH ENGKAU DATANG!

Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda.

JALAN

Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya, kau akan binasa.
Jika mencoba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan setan.

EMPAT LAKI-LAKI DAN PENERJEMAH

Empat orang diberi sekeping uang.

Pertama adalah orang Persia, ia berkata, “Aku akan membeli anggur.”

Kedua adalah orang Arab, ia berkata, “Tidak, karena aku ingin inab.”

Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, “Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum.”

Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, “Aku ingin stafil.”

Karena mereka tidak tahu arti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.

Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, “Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping uang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping uang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu.”

Mereka pun tahu bahwa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.

AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, istrinya Adam,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …

Baca selanjutnya…

Kategori:Tasawuf

Pustaka Wedha Sasongko

25 Juli, 2008 4 komentar

Kababar Dening : KANGJENG GUSTI BENDARA RADEN ADJENG DHENOK SURJANINGSIH (Ngeksiganda Nagri 1643)
Rinukti Saha Rinumpaka Dening : SESANGGAWIRJA
Sengkalaning Tjandra SAPTA RASA MALEBENG PERTIWI Utawi WIWARANING TJEPURI HESTHINING DJAGAD (Tahun Masehi 1967 utawi Tahun Saka 1988)
Wedha Ageng Surasa.Karangan Angka 1 saking : Wirid Wedha Tjarita lan Djangka :
Bagijan Kaping Kalih, Ngagem Tjarios :ARGA BAWERA
Punapa ta tegesipun Arga Bawera ?
Arga sami kalijan giri, prawata, prabata, ardi, redi, gunung.
Bawera sami kalijan djembar, omber, kobet, mboten tjupet, mboten kaling-kalingan, tanpa wangenan, tanpa wates.
Dados Arga Bawera ateges : Gunung kang djembar omber, mboten kaling-kalingan, padhang trawangan.
Suraosipun: Pralampampitaning kawitjaksananipun Sang Lokaprana, ingkang tuhu limpad, bontos, djembar, omber, tanpa wangenan, sarwi padhang datan kewran nembus sagung aling-aling (warana).
Dumunung ing puntjaking Arga ingkang Bawera, panggenan ingkang inggil pijambak, limrahipun sok kawastanan : Guruloka. Tumrap blegering manungsa dumunung wonten ing sirah (mustaka).
Katjarijos Sang Prabu Brawidjaja ingkang kaping II inggih Raden Djaka Lawung, ingkang sakelangkung lingsem ing penggalih, sebab sanget kaesi-esi dening ingkang garwa Dewi Retna Sekar dalah ingkang rama marasepuh Adipati Tjiung Gupita, sesampunipun masrahaken pusaraning pradja Madjapait dhateng ingkang raji Pangeran Anom Minak Pijungan, ingkang ladjeng adjedjuluk Prabu Brawidjaja ingkang kaping III. Ladjeng djengkar saking kedhaton, tindakipun mendhem kula, nimpal keli, tanpa kendel tumoleh, ngener mangidul, kesupen dhateng ingkang katilar, nering karsa sumedija nindakake dhawuhing ingkang ibu swargi. Ing sakmargi-margi tansah ngawuningani alam gumelar ingkang sarwi elok, edi, asri, nengsemaken. Penggalihipun Sang Prabu kasengsem sanget, kadudut, kapiluja pirsa kawontenan mekaten wau punika. Baca selanjutnya…

Kategori:Budoyo