Arsip

Archive for Agustus, 2008

Syahru Romadlon

22 Agustus, 2008 4 komentar

“Sesungguhnya Bilangan Bulan bagi Alloh itu ada dua belas” (At-Taubah 37), Macam –macam Bulan Islam:

1. Bulan Muharrom (Bulan yang di Haromkan)

2. Bulan Shofar (Kuning/Nol)

3. Bulan Robi’ul awwal (Duduk Pertama)

4. Bulan Robi’ul Akhir (Duduk yang akhir)

5. Bulan Jumadil Ula (Beku pertama)

6. Bulan Jumadil Akhiroh (beku yang akhir)

7. Bulan Rojab (Mulia)

8. Bulan sya’ban (cabang-cabang)

9. Bulan Romadlon (Membakar)

10. Bulan Syawwal (Tinggi)

11. Bulan Dzul Qo’dah (Punya duduk)

12. Bulan Dzul Hijjah (Punya ibadah Haji)

Dari kedua Belas Bulan itu , hanya Bulan nomor 9 yang mempunyai banyak nama, Tiap-tiap nama mempunyai arti yang menujukkan kemuliaan Bulan yang kesembilan itu. Diantara nama-namanya yang banyak itu ialah: Baca selengkapnya…

Kategori:Agomo

Sun-Tzu

22 Agustus, 2008 20 komentar

“Dia yang mengenal musuh maupun dirinya sendiri takkan pernah beresiko dalam seratus pertempuran; Dia yang tidak mengenal musuh tetapi mengenal dirinya sendiri akan sesekali menang dan sesekali kalah; Dia yang tidak mengenal musuh ataupun dirinya sendiri akan beresiko dalam setiap pertempuran.” (Sun-Tzu)

Senjata paling ampuh dalam sebuah perang adalah Strategi, dan banyak jenderal ternyata mengandalkan strategi perangnya pada buku Seni Berperang karya Sun Tzu, yang ditulis kira-kira 2500 tahun yang lampau.

Berikut Kitab Asli seni berperang Sun Tzu! Terjemahan asli dari bahasa Tiongkok

SENI BERPERANG oleh : Sun Tzu

13 bab Strategi militer klasik:
1. Kalkulasi
2. Perencanaan
3. Strategi
4. Kekuatan pertahanan
5. Formasi
6. Kekuatan dan kelemahan
7. Manuver
8. Sembilan varuiasi
9. Mobilitas
10. Tanah lapang
11. Sembilan situasi klasik
12. Menyerang dengan api
13. Intelijen

Baca selengkapnya…

Kategori:Catatan Harian

Suluk Sunan Bonang (cuplikan)

13 Agustus, 2008 13 komentar

DI kalangan ulama tertentu mungkin peranan Sunan Bonang dianggap tidak begitu menonjol dibanding wali-wali Jawa yang lain. Tetapi apabila kita mencermati manuskrip, justru Sunan Bonang yang meninggalkan warisan karya tulis paling banyak, berisi pemikiran keagamaan dan budaya bercorak sufistik.

Berikut beberapa cuplikan Suluk-suluk Blio

Dalam Suluk Kaderesan, Sunan Bonang menulis:

Jangan meninggikan diri
Berlindunglah kepada-Nya
Ketahuilah tempat sebenarnya jasad ialah roh
Jangan bertanya
Jangan memuja para nabi dan wali-wali
Jangan kau mengaku Tuhan
.

Dalam Suluk Ing Aewuh ia menyatakan:

Perkuat dirimu dengan ikhtiar dan amal
Teguhlah dalam sikap tak mementingkan dunia
Namun jangan jadikan pengetahuan rohani sebagai tujuan
Renungi dalam-dalam dirimu agar niatmu terkabul
Kau adalah pancaran kebenaran ilahi
Jalan terbaik ialah tidak mamandang selain Dia
.

Semoga manfaat …

Kategori:Catatan Harian

Nusantara, Pusat Peradaban Dunia

8 Agustus, 2008 42 komentar

Nenek moyang bangsa Nusantara, khususnya Pulau Jawa adalah pencipta kebudayaan dunia. Leluhur bangsa Nusantara (Indonesia) merupakan manusia-mansuia tangguh dan cerdas, pencipta peradaban dunia. Bahkan jauh sebelum tahun masehi, kerajaan nusantara adalah penguasa duapertiga wilayah bumi. India dulu hanyalah salah satu kadipaten dari kerajaan yang berpusat di pulau Jawa. Sumber dari peradaban dunia bisa dikatakan semuanya bermula dari Nusantara.

Semuanya memberikan kita gambaran bahwa nenek moyang bangsa Indonesia bukan orang-orang terbelakang. Kalau kemudian sejarah dunia saat ini tidak memposisikan peradaban nusantara sebagai sumber dari peradaban dunia, maka itu tidak lebih bagian dari kerja-kerja ilmuwan dari belahan dunia barat yang ingin mengingkari realitas.

Saya terkejut mendengar penjelasan ini dari seorang teman baru ketika saya usai mengikuti sebuah acara beberapa waktu lalu di Semarang. Teman ini orang Semarang, tetapi kini merasa lebih enjoy bermukim di Jogja. Raut wajahnya nampak serius menceritakan semuanya kepada saya yang menunjukkan ia sungguh-sungguh. Baca selengkapnya…

Kategori:Cinta Tanah Air

Acintya

4 Agustus, 2008 Tinggalkan komentar

Dua makna yang dapat diurai berkaitan dengan “Acintya” ini.
Pertama, Acintya sebagai suatu istilah yang didalam kitab suci Bhagavadgita II.25, XII.3 atas Manawadharmasastra I.3 disebut dengan kata: Acintyah, Acintyam atau Acintyasa yang artinya memiliki sifat yang tidak dapat dipikirkan. Dalam bahasa Lontar Bhuwana Kosa, “Acintyam” bahkan diberi artian sebagai “sukma tar keneng anggen-anggen”: amat gaib dan tidak dapat dipikirkan. Lalu siapa yang dikatakan memiliki sifat tidak dapat dipikirkan itu, tidak lain dari Sang Paramatman (Hyang Widhi) termasuk Sang Atman itu sendiri. Jadi, sebagai suatu istilah, “Acintya” mengandung makna sebagai penyebutan salah satu sifat kemahakuasaan Tuhan.

Kedua, Acintya sebagai symbol atau perwujudan dari kemahakuasaan Tuhan itu sendiri. Bahwa apa yang sebenarnya “tidak dapat dipikirkan” itu ternyata “bisa diwujudkan” melalui media penggambaran, relief atau pematungan. Maka muncullah gambar Acintya di atas selembar kain putih sebagai “ulap-ulap” ketika ”melaspas atau ngenteg linggih” sebuah pura. Atau relief Acintya di bagian “ulon” (Singgasana) Padmasana atau dalam bentuk patung/arca tersendiri. Kesemua bentuk symbol Acintya yang diwujud-nyatakan itu mengandung makna sama yaitu sebagai penggambaran dari kemahakuasaan Tuhan. Dengan mewujud-nyatakan simbol yang sebenarnya “tidak terpikirkan” itu dikandung maksud agar umat berada pada situasi di mana emosi religinya sangat dekat dengan Tuhan. Baca selengkapnya…

Kategori:Agomo

Seruling Kakua

2 Agustus, 2008 2 komentar

 

Tanpa seorang teman, seorang guru turun dari sebuah padepokan agung diatas gunung sa’ada. Kali ini ia tak lagi menggunakan jubah kesayangannya juga kebesarannya yang tiap kali pengajian menjadi rebutan untuk mengharap berkahnya tak lagi terlihat.

Bukan hanya penampilannya saja yang berubah, sikapnya juga kian lunak. Dalil-dalil yang biasa menghiasi setiap petuahnya tak lagi mudah untuk ditemukan. Diam seolah menjadi pilihan terbaik yang dilakukannya malam ini. Banyak tetangga kampong jadi bertanya-tanya, termasuk saimin santrinya yangn doyan berprasangka.

“guru sesungguhnya ilmu baru apa yang telah engkau bawah dari padepokan agung diatas sana?” yang ditanya hanya menjawab satu kali saja ” saat berangkat aku sungguh berniat mengisi jubahku dengan bunga-bunga mauidhotil hasanah. Bila aku kemballi akan aku bagikan kepada kalian bunga-bunga nasihat menyenangkan itu. Tapi apa boleh buat, sesampainya diatas padepokan sa’ada keindahan tamannya telah membuatku menangalkan jubahku. Baca selengkapnya…

Kategori:Kisah