Arsip

Archive for Oktober, 2007

R.M Panji Sosrokartono

24 Oktober, 2007 38 komentar

Kaum bangsawan di Belanda menjulukinya Pangeran dari Tanah Jawa. Raden Mas
Panji Sosrokartono, kakak R.A. Kartini, selama 29 tahun, sejak 1897,
mengembara ke Eropa. Ia bergaul dengan kalangan intelektual dan bangsawan
di sana. Mahasiswa Universitas Leiden itu kemudian menjadi wartawan perang
Indonesia pertama pada Perang Dunia I.

Di Indonesia, Sosrokartono mendirikan sekolah dan perpustakaan. Ia juga
membuka rumah pengobatan Darussalam di Bandung. Tempo menelusuri jejak
sang intelektual dan spiritualis ini dari orang-orang yang pernah
bersinggungan dengan Sosrokartono, juga dari berbagai bukunya, termasuk
surat- surat Kartini dan adik-adiknya, dan dari naskah pidatonya yang
masih tersimpan di Leiden.

Selama 29 tahun ia hidup melanglang Eropa. Di Bandung ia mendirikan
perpustakaan, rumah pengobatan, dan dicap komunis.

Baca selengkapnya…

Ngelmu Kanthong Bolong

24 Oktober, 2007 2 komentar

NGANCIK jaman posmodern panguripan kang sarwa maju wus kita rasakake.
Kabeh kebutuhan padinan bisa dicukupi lewat teknologi. Wong-wong padha
ngendelake akal lan nalar. Kabeh pambudidaya katindakake kanggo nata
perekonomian lan panguripane bebrayan.

Faham kapitalisme global nguwasani tatatan urip. Egosentrisme dadi
pola pikir pribadi. Wong-wong padha gelem ngorbanake hak pribadi
kanggo nggayuh keuntungan sing luwih dhuwur. Ing kahanan kaya iki alam
dieksploitasi saentek-enteke nganti sumber alam padha asat. Baca selengkapnya…

Kategori:Budoyo

Bung Tomo

22 Oktober, 2007 Tinggalkan komentar

Sutomo (lahir di Surabaya 3 Oktober 1920, meninggal di Makkah, 7 Oktober 1981) lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ayahnya adalah seorang serba bisa. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor loal untuk perusahaan mesin jahit Singer Baca selengkapnya…