Beranda > Tasawuf > Menyembah yang kuasa

Menyembah yang kuasa

 

Orang sering ingin menyembah dan merasa sudah menyembah pada Yang Kuasa. Hal itu terdorong oleh berbagai ajaran yang diperolehnya. Salah satu ajaran menerangkan bahwa rumah itu ada pembuatnya yakni manusia, maka bumi dan langit dengan semua isinya pasti ada juga pembuatnya, yaitu Yang Kuasa. Ia dinamakan Yang Kuasa sebab ia kuasa membuat apa saja yang tak mungkin dibuat oleh manusia. Bahkan Yang Kuasa itu pun memberikan hidup serta penghidupan jiwa dan raganya. Malah, anak, istri, dan suaminya juga pemberian Yang Kuasa. Angin, hujan, matahari dan lain-lain termasuk pemberian Yang Kuasa.

Oleh karena Yang Kuasa itu yang memberikan segala sesuatu, maka pantas sekali jika orang memohon dan menghaturkan terima kasih kepadanya. Andaikata ia tidak diberi matahari, betapa besarnya biaya langganan listrik Aniem (nama perusahaan listrik zaman kolonial Belanda) yang harus dibayarnya. Oleh karenanya orang lalu menyembah dan memohon kepada Yang Kuasa.

Adapun cara menyembahnya berbagai macam. Ada yang dengan membakar dupa/kemenyan di depan pohon besar. Ada yang memberi sesajen di jalan perempatan (simpang empat). Ada yang memuja sesuatu dan sebagainya.

Menyembah Yang Kuasa dengan menghaturkan terima kasih tidak selalu dapat dijalankan, karena pada waktu orang menderita sakit atau mengalami kesusahan, ia tidak yakin bahwa sakitnya dan kesusahannya itu pemberian Yang Kuasa, sehingga ia mengurungkan niatnya. Pikirnya, mustahil Yang Kuasa memberikan sakit dan kesusahan pada umatnya. Perbuatan itu bertentangan dengan kekuasaannya yang bisa dianggap sewenang-wenang.

Apabila timbul masalah seperti di atas, orang lalu diberi penjelasan, bahwa pemberian yang lebih baik dari Yang Kuasa ialah setelah orang meninggal dunia. Apabila ia menyembah dengan sungguh hati, ia akan memperoleh kemuliaan abadi setelah mati.

Di sini maksud menyembah sudah berubah. Kalau maksud semula untuk menghaturkan terima kasih, sekarang untuk memperoleh kemuliaan setelah mati, dengan kata lain sebagai sogokan. Lagi pula orang menderita kesusahan pada waktu sekarang, sabarkah ia menanti kemuliaan setelah mati. Tentu tidak, sebab daya upayanya mengatasi kesusahan belum habis.

Dalam persoalan di atas kepada orang itu diajarkan lagi, apabila ia benar-benar memohon sepenuh hati kepada Yang Kuasa, pasti akan dikabulkan keinginannya dalam hidupnya sekarang. Peribahasanya: siapa patuh akan dikaruniai.

Hal tersebut jika dipikirkan, jelas tidak nalar. Karena kalau semua permohonan bisa dikabulkan, jagat dengan semua isinya menjadi kacau. Misalnya petani mohon hujan, sedang pemain ketoprak mohon cuaca terang. Sulitlah dua macam permohonan yang bertentangan itu dilaksanakan. Maka menyembah demikian itu tidak masuk di akal.

Jadi, menyembah dengan maksud menghaturkan terima kasih, tidak dapat dilakukan bila orang sedang sakit atau susah. Menyembah dengan maksud memperoleh kemuliaan setelah mati, orang pasti tak sabar menanti. Menyembah dengan maksud agar dikabulkan permohonannya, pasti tidak dapat terkabul semua.
Adapun cara menyembah yang masuk di akal, ialah apabila orang mengerti:

  1. Yang menyembah itu apa

  2. Yang disembah itu apa

  3. Bagaimana cara menyembah

Supaya jelas, ketiga hal tersebut perlu diteliti.


1. Yang Menyembah

Tanpa meneliti dengan cermat, orang menyatakan, bahwa yang menyembah adalah orang. Pernyataan tersebut tidak jelas, karena jika yang diartikan orang, ialah setiap orang yang berwatak menyembah, maka kita tidak perlu lagi bersusah payah, dengan sendirinya sudah menyembah. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Kenyataannya yang menyembah adalah orang yang sedang malang hidupnya. Karena kalau ia sedang mujur, beruntung, ia tidak menyembah. Jadi yang menyembah ialah yang merasa sial nasibnya.

Di sini timbul dua macam pertanyaan. Pertama bagaimanakah orang merasa sial? Dan kedua, apa pula yang menyebabkannya merasa sial?

Orang merasa sial tatkala mendapat kesulitan, dan merasa tak mungkin terlepas dari kesulitan itu. Sedangkan ia selalu berusaha melepaskan dan menolak kesulitan itu namun tak berhasil. Jadi sial itu sama dengan keinginan tidak tercapai.

Sebagai contoh, orang yang sedang menikmati hidupnya yang sejahtera, merasa umurnya semakin tua, mendekati saat ajalnya tiba. Menurut keinginannya, jangan sampai ia menjadi tua dan mati. Maka ia merasa sial karena keinginannya tak tercapai.

Padahal kesialan itu disebabkan kurangnya pengertian akan kesulitan. Kesulitan adalah akibat dari suatu sebab. Apabila penyebabnya lenyap, akibatnya pasti turut lenyap. Orang yang mengerti demikian itu tidak merasa sial. Ia lalu mencari tahu sebab-musababnya kesulitan. Kurangnya pengertian akan kesulitanlah yang menyebabkan kesulitan.

Jadi yang menyembah ialah yang merasa sial. Yang merasa sial ialah keinginan yang tak tercapai. Dengan kata lain yang menyembah ialah keinginan yang tak tercapai.

Padahal yang menyebabkan orang merasa sial ialah kurangnya pengertian akan kesulitan. Maka bila ia mengerti akan kesulitan, sebab rasa sial itu sirna. Dan bila sebabnya sirna, akibatnya, yakni rasa sial, pasti sirna.

Tadi sudah dikatakan bahwa yang menyembah ialah yang merasa sial. Maka kalau yang merasa sial sirna, berarti yang menyembah sirna. Demikianlah bila mengerti sebabnya kesulitan, yang menyembah pun sirna. Dan bila yang menyembah sirna, yang disembah pun turut sirna. Namun perlu dijabarkan apakah yang disembah itu.


2. Yang Disembah

Menurut keterangan di atas jelas, bahwa bila yang menyembah, yang merasa sial atau yang keinginannya tak tercapai, maka yang disembah tentulah yang merasa berkuasa atau yang keinginannya tercapai.

Misalnya seorang yang sedang memiliki banyak harta benda, ia merasa berkuasa, lalu berhenti menyembah. Malah sebaliknya, ia disembah oleh orang yang keinginannya tak tercapai. Orang berkuasa itu disodori makanan, pakaian, dengan hormat sekali. Lebih-lebih kalau ingin meminjam uang darinya.

Di sini akan saya terangkan proses rasa sial yang mengadakan barang yang disembah. Kalau kita mengerti yang menyembah rasa sial, maka yang disembah ialah yang merasa berkuasa.

Tatkala orang menderita kesusahan, dan ingin menolaknya, ia tidak mencari tahu sebab-musabab kesusahannya, sehingga usahanya menolak kesusahan pun sia-sia. Lalu ia merasa sial, celaka. Rasa sial itu mendorongnya untuk minta pertolongan Yang Kuasa. Dicarinya dukun-dukun atau guru-guru yang dapat menunjukkan jalan untuk menemui Yang Kuasa.

Gambarannya tentang Yang Kuasa ialah sesuatu yang dapat menolongnya menghindari kesulitan. Dibayangkannya bahwa Yang Kuasa itu akan menggunakan kekuasaannya untuk memenuhi permohonannya. Dan Yang Kuasa dapat mencipta sesuatu yang tidak ada, menjadi ada, dan yang ada, menjadi tidak ada. Misalnya Gunung Merapi yang ada dapat dicipta lenyap. Maka orang menggunakan kekuasaan Yang Kuasa untuk memperoleh yang dimintanya.

Yang diminta orang ialah menghindari kesulitan. Kalau kesulitannya berupa utang yang tak dapat ia bayar, ia memohon kepada Yang Kuasa agar utangnya dicipta menjadi lunas. Kalau kesulitannya berupa rindunya terhadap seseorang, ia mohon kepada Yang Kuasa agar orang yang dicintai berbalik mencintai dirinya. Namun yang sering terjadi si pemohon semakin tergila-gila, lupa daratan. Jadi yang dianggapnya Yang Kuasa adalah anggitan si orang yang merasa sial itu.

3. Menyembah

Sebagaimana telah diterangkan bahwa yang menyembah ialah yang merasa sial atau celaka, dan yang disembah adalah gambaran pikirannya sendiri dalam usahanya mencari kuasa. Maka jelas bahwa menyembah adalah tindakan si sial, mencari kuasa atau minta pertolongan pada gambarannya Yang Kuasa. Gambaran Yang Kuasa itu bermacam-macam sehingga bermacam-macam pula cara menyembahnya.

Salah satu gambar Yang Kuasa ialah yang membuat semua benda di atas bumi dan di kolong langit, yang menggerakkan matahari dari timur ke barat, yang menghembuskan angin dan menjatuhkan hujan dan yang menumbuhkan tetumbuhan dan lain sebagainya. Melihat gambaran pikirannya semacam itu, orang lalu merasa dirinya kecil sekali, lemah dan sial. Oleh karenanya ia lalu menyembahnya. Namun bilamana ia mengalami nasib malang, ragu-ragulah hatinya, “Kalau benar-benar berkuasa, mengapa membuat orang bernasib malang.” Ada lagi gambaran Yang Kuasa yang mencipta manusia berikut ajaran baik dan buruk. Bila orang berlaku baik, sesuai dengan ajarannya, nanti setelah mati akan memperoleh kemuliaan. Sebaliknya bila ia berbuat buruk, berdosa, nanti setelah mati akan disiksa. Kalau timbul niat jahat datangnya dari godaan, kalau niat baik datangnya dari Yang Kuasa. Apabila orang kerap melakukan dosa yang membuatnya putus harapan, lalu diadakan peleburan dosa, yakni orang yang banyak berdosa mohon pengampunan dari Yang Kuasa. Tetapi karena seringnya ia berbuat dosa, lalu ditimbunnya dosa yang bertumpuk itu untuk sekaligus dimintakan pengampunannya. Demikian menyembah yang tidak benar.

Menyembah yang benar ialah berdasarkan penelitian dan pengertian. Penelitian itu menunjukkan kepada kita tentang rasa manusia yang menimbulkan rasa enak. Menyembah berdasarkan hasil penelitian itu sebagai berikut. Manusia itu sial atau malang dalam memenuhi keinginannya. Misalnya ia kini muda belia, tidak ingin menjadi tua, namun terpaksa ia harus mengalami tua. Maka siallah baginya dalam menolak usia tua.

Misalnya kini ia hidup tidak ingin mati. Namun terpaksa ia mengalami mati. Maka siallah baginya dalam hal menolak kematian. Misalnya kini ia kaya, memiliki banyak harta dan rumah, dan tidak ingin harta bendanya musnah. Namun ia tidak tahu apakah harta kekayaannya itu bisa lestari. Siapa tahu dalam waktu dekat datang bencana, rumah dan kekayaannya terbakar habis. Maka siallah manusia karena tidak dapat mengetahui kelestarian harta bendanya. Misalnya kini ia berkedudukan tinggi dengan penghasilan besar, tidak ingin kemerosotan keadaannya. Namun siapa tahu bulan mendatang ia dipecat dari pekerjaannya. Maka malanglah manusia untuk mengetahui keadaannya kemudian hari. Misalnya kini ia mempunyai anak dan istri/suami yang serasi dan tidak ingin berpisahan. Tetapi siapa tahu, hari-hari mendatang ia bertengkar dengan istri/suaminya hingga bercerai. Sementara anaknya meninggal dunia. Maka siallah manusia yang tak dapat menjamin kelestarian kerukunan rumah tangganya. Misalnya kini ia punya sahabat karib yang tak ingin terpisahkan. Tetapi siapa tahu esok lusa timbul percekcokan sehingga kawan menjadi lawan, sahabat menjadi musuh. Maka siallah orang yang tak dapat mengetahui kelangsungan persahabatan yang akrab. Misalnya ia kini sehat walafiat, ingin mempertahankan kesehatan itu. Namun siapa tahu esok lusa ketabrak mobil dan patah kakinya. Siallah manusia yang tidak dapat mengetahui nasibnya yang akan datang. Bahkan kesialannya meliputi ketidaktahuannya dan ketidakmengertiannya akan tercapai tidaknya idam-idamannya yang beraneka warna. Andai kata, tak tercapai, apakah tak membuatnya kecewa? Andaikata tercapai, apakah tidak membuatnya khawatir kalau-kalau terlepas lagi? Kalau idam-idaman yang telah dicapai hilang lagi, apakah tidak membuatnya menyesal, sedih, dan takut? Maka setiap orang di mana saja, kapan saja dan bagaimana saja selalu malang sifatnya.

Apabila kita mengerti watak manusia itu sial, maka kita tidak lagi mencari kuasa. Karena kita mengerti, walaupun andaikan kita berhasil menemukan Yang Kuasa, kita sendiri tetap sial, tak berkuasa.

Apabila orang sudah tidak mencari kuasa, ia lalu merasa berkuasa. Kemudian dapat mengerti bahwa rasa sial itu disebabkan oleh rasa butuh. Watak rasa butuh adalah sial. Jadi saban butuh pasti sial. Maka berkuasa itu kalau tidak butuh. Jadi kalau tidak butuh kuasa lalu merasa berkuasa

Jelas penelitian di atas menerangkan bahwa sifat semua manusia selamanya sial. Kesadaran tersebut mengakibatkan kita tidak mencari kuasa. Setelah tidak mencari kuasa, lalu kita merasa berkuasa. Maka buah penelitian tersebut adalah rasa berkuasa. Rasa berkuasa adalah rasa enak.

Jadi menyembah Yang Kuasa yang benar adalah hasil penelitian bahwa sifat manusia itu sial. Sehingga kita tidak mencari kuasa, oleh karenanya lalu merasa berkuasa. Maka menyembah di atas melahirkan rasa berkuasa.

Di sini bersatulah yang menyembah dan yang disembah atau sirnalah yang menyembah dan yang disembah. Yang menyembah ialah yang disembah dan yang disembah ialah yang menyembah. Peribahasa Jawanya, Sirnaning kawula Gusti, atau Loro-loroning atunggal (dua menjadi satu).

Jadi menyembah ialah mengerti bahwa watak manusia itu sial, lalu tidak mencari kuasa yang menimbulkan rasa berkuasa. Maka menyembah adalah merasa berkuasa. Menyembah demikian adalah yang benar.

Maka ada menyembah yang benar dan ada pula yang tidak benar. Menyembah yang tidak benar ialah tatkala orang merasa sial lalu bertindak mencari kuasa yang rasanya tidak enak. Menyembah yang benar yaitu merasa berkuasa.

Di sini timbul masalah dalam menanggapi rasa sial dan rasa kuasa, yang sering diartikan keliru. Rasa sial diartikan keinginan yang tak tercapai dan rasa berkuasa diartikan keinginan yang tercapai, sehingga orang berusaha keras mencari kuasa atau Yang Kuasa. Yakni keinginan yang tercapai.

Pada hakikatnya, rasa sial adalah rasa butuh dan rasa kuasa adalah rasa tidak butuh. Maka itu butuh ialah sial, tidak butuh ialah berkuasa. Jadi rasa berkuasa adalah rasa tidak butuh kuasa, karena mengerti bahwa watak manusia itu sial. Dari itu menyembah yang benar ialah mengerti dan mengawasi sialnya sendiri dengan senang hati.

Setelah berkuasa orang akan senantiasa menyembah secara mengetahui dan menertawai kesialannya sendiri dengan senang hati.

Umpama kita mengetahui diri sendiri sangat takut menjadi tua-renta, padahal mau tidak mau pasti mengalaminya. Kita senang melihat kenyataan manusia itu sial.

Kita mengetahui diri sendiri sangat takut mati, padahal tak dapat menolaknya. Kita senang membuktikan bahwa manusia itu sial.

Kita mengetahui diri sendiri terus-menerus dirundung kekhawatiran dalam usahanya yang keras untuk mempertahankan kejayaannya yang tak terjamin kelestariannya. Melihat kenyataan manusia yang sial itu menimbulkan rasa senang.

Kita mengetahui diri sendiri berkedudukan tinggi dan berpenghasilan besar, lalu berusaha keras untuk mempertahankan keadaan itu. Padahal kita tidak tahu apakah usaha tersebut akan berhasil. Kita senang melihat kenyataan bahwa manusia memang sial.

Kita hidup bahagia bersama anak dan istri dan lalu berusaha keras untuk melestarikannya. Namun kita tidak tahu apakah usaha kita itu akan berhasil. Kita dapat menertawai diri sendiri, lihatlah manusia itu sial.

Kita mempunyai sahabat karib dan berusaha melestarikannya, namun tidak ada jaminannya. Kita dapat menertawai diri sendiri sebagai manusia yang sial.

Kita dalam keadaan sehat walafiat dan berusaha agar keadaan ini tetap. Namun siapa tahu penyakit menyerang sewaktu waktu. Maka diri kita ini sebagai manusia memang sial.

Kita mengidam-idamkan sesuatu, kita tidak tahu apakah idam-idaman itu bisa tercapai atau tidak. Kalau tercapai, kita takut terlepas lagi, kalau tidak tercapai membuat hati merana. Manusia memang sial.

Demikian rasa berkuasa membikin orang selalu bersenang-senang menyembah.

Akan tetapi orang bisa salah menangkap arti wejangan di atas. Ketika diberi tahu bahwa dirinya sebagai manusia bersifat sial, ia lalu merasa sial. Kemudian ia mengira bahwa yang memberi tahu ialah yang berkuasa dan ditanyakan, “Bagaimana jalannya agar berkuasa?” Yang ditanya pun mengajarkan berbagai pertapaan, tirakatan yang sulit dan aneh, untuk memperoleh kekuasaan. Di bawah ini disebutkan beberapa contoh.

Orang merasa sial karena takut menjadi tua dan mati, sedangkan ia tidak dapat mengelakkannya. Oleh gurunya diajarkan agar ia bertapa yang aneh-aneh supaya mendapat karunia awet muda dan setelah mati bisa hidup langgeng.

Orang merasa sial karena ingin mempertahankan keadaannya yang serba kecukupan namun tidak tahu jalannya. Oleh sang guru diajarkan bertapa yang aneh-aneh. Ada yang disuruh memuja Dewi Sri, ada pula yang disuruh mengumpulkan emas dan lain-lain. Kalau taat dalam pertapaannya dan dianugerahi, harapannya dapat dipenuhi, yakni hidupnya akan kecukupan selamanya.

Orang merasa sial karena tidak tahu bagaimana jalannya untuk melestarikan pangkat dan kedudukannya. Oleh gurunya diajarkan agar tirakat yang aneh-aneh. Bila dimarahi oleh majikannya atau pemimpinnya, supaya mengucapkan mantra, Suk Mum Bu Mum, sembari menggenggam kedua ibu jarinya. Dalam hati mengatakan, “Aku tidak menggenggam jempol melainkan menutup mulut majikanku.” Dan bila dianugerahi ia akan dapat bertahan dalam kedudukannya.

Orang merasa sial karena tidak tahu bagaimana melestarikan kemesraan hubungan dengan keluarganya. Gurunya lalu mengajarkan tirakat yang aneh-aneh, seperti Aji Jaran Goyang, Rejuna Jalur, Ati Kitab Jusuf, agar supaya dicintai oleh suami/istrinya.

Atau orang merasa sial karena tidak tahu bagaimana melestarikan persahabatannya. Oleh gurunya diajarkan supaya setiap malam membaca mantra agar dikasihi banyak orang. Orang merasa sial karena tidak tahu bagaimana menjaga badannya agar tetap sehat. Ia lalu diajar yang aneh-aneh, yakni supaya minta bantuan saudaranya yang disebut “kakang kawah adhi ari-ari” (lendir dan ari-ari yang menempel pada bayi waktu dalam kandungan) untuk menjaga kelestarian kesehatannya.

Orang merasa sial karena tidak tahu apakah cita-citanya akan berhasil. Ia lalu diajar yang aneh-aneh seperti bersemadi dengan menutup sembilan lubang panca indera, mencari tahu arti isyarat-isyarat, bisikan hati, ilham dan sebagainya. Bila dianugerahi ia dapat meramalkan berhasil atau gagalnya cita-citanya, sehingga ia dapat meneruskan atau menghentikan usahanya menuntut cita-citanya

Orang merasa sial karena gagal dalam usaha meraih cita-citanya. Ia lalu diajar supaya ingat akan percobaan Yang Kuasa, dan supaya sabar serta rajin memohon ampun. Kalau dianugerahi ia akan memperoleh kemuliaan besar setelah mati. Ia lalu berbuat yang aneh-aneh.

Orang merasa sial karena takut kalau-kalau hasil usahanya akan musnah kembali. Ia lalu diajar supaya berterima kasih kepada Yang Kuasa yang telah memberinya. Sehingga kalau dikaruniai, Yang Kuasa akan melindunginya.

Orang merasa sial karena kecewa bahwa idam-idamannya yang telah tercapai hilang lagi. Ia lalu diajar supaya tidak menyesali hal tersebut dan percaya kepada nasib. Nasibnya sudah ditetapkan di atas papan tulis sebelum ia lahir. Maka ia harus rajin-rajin memohon kepada yang menentukan nasib. Kalau permohonannya diterima ia akan memperoleh ganti berlipat ganda, setelah mati.

Demikianlah, apabila wejangan salah diterima, menyebabkan orang bertindak yang aneh-aneh. Kekeliruan itu disebabkan adanya rasa yang tidak jelas. Bahwa manusia itu sial, ini sudah jelas. Tetapi apakah sial itu keadaan atau sifat, ini belum jelas. Kalau sial itu keadaan, ia dapat berubah. Tetapi kalau sial itu sifat, ia tak dapat berubah, yakni berubah menjadi kuasa.

Apabila orang mengira sial sebagai keadaan, anggapan itu keliru. Ia lalu berusaha keras mencari kuasa di dalam ruang dan waktu. Kalau ia mencari kuasa dalam ruang, ia lalu belajar “ngraga sukma” yakni mengeluarkan jiwanya dari raganya, agar jiwanya dapat terbang di angkasa, mengitari dunia, dan kemudian dapat meramalkan kejadian di tempat jauh, walaupun jika meramalkan kejadian pada dirinya sendiri yang dekat tak pernah tepat dan mengecewakannya. Lagi pula mata jiwa berbeda dengan mata raga (mata kepala). Kalau jiwa melihat rumah, tentu rumah bagi jiwa, bukan rumah untuk raga. Kalau jiwa makan nasi, tentu nasi untuk jiwa, bukan nasi untuk raga. Kalau ia mencari kuasa dalam waktu, ia lalu belajar bersemedi agar dapat mengetahui kejadian yang sudah dan yang belum terjadi. Dianggapnya bahwa peristiwa yang telah dan yang belum terjadi itu ditulis di atas papan angkasa, yang dapat dibaca oleh mata batin yang melek, sehingga dapat dipakai untuk meramal, walaupun kalau ia meramalkan kejadian pada dirinya sendiri yang sekarang sedang tergila-gila kepada seseorang tidak pernah tepat, sehingga ia kecewa. Demikian wejangan yang salah ditangkap, menyebabkan orang berlaku yang tidak wajar.

Maka apabila rasa sial dianggap sebagai sifat, anggapan itu benar. Walaupun penjabarannya masih bisa keliru, sehingga orang mencari Yang Kuasa dan melakukan hal yang aneh-aneh yang tak enak rasanya. Kekeliruan itu disebabkan tidak jelasnya rasa berkuasa. Padahal kuasa adalah rasa tidak butuh.

Jadi bila kita mengerti bahwa sifat manusia itu sial karena butuh, lalu tidak mencari kuasa. Dengan sendirinya kita lalu berkuasa karena tidak butuh kuasa. Kemudian kita dapat menertawai kesialan kita sendiri. Demikian itu menyembah yang benar.

Rasa kuasa ialah rasa enak, maka wejangan tersebut membikin orang merasa enak. Apabila orang menanggapi wejangan dengan tepat, ia merasa berkuasa, enak, yakni hasil wejangan yang semestinya.

 

 

Ki Suryo Mentaram

Kategori:Tasawuf
  1. mardi wolo
    28 Januari, 2008 pukul 9:43 pm

    bagus sekali selaras dengan hakikat kalimat tauhid……………………..

  2. Dipo
    20 September, 2010 pukul 9:11 pm

    Trimakasih atas tulisanya.
    Klo sembahyang yang disembah itu siapa?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: