Beranda > Budoyo > Ilmu Bahagia (part III)

Ilmu Bahagia (part III)

Mengawasi Keinginan

Manusia itu semua sama yakni abadi, rasanya sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah, demikian seterusnya. Bila kebenaran itu dimengerti, keluarlah orang dari penderitaan neraka iri-sombong, sesal-khawatir yang menyebabkan prihatin, celaka, dan masuklah ia dalam surga tenteram dan tabah yang menyebabkan orang bersuka-cita, bahagia.

Setelah bersuka-cita dan bahagia, maka dapatlah orang menyadari dirinya sendiri sewaktu timbul keinginan apa-apa. Setiap keinginan itu pasti mengandung rasa takut kalau-kalau tidak tercapai. Keinginan inilah yang segera diyakinkannya: “Keinginan itu jika tercapai tidak menimbulkan bahagia, melainkan senang sebentar yang kemudian akan susah lagi. Dan bila tidak tercapai pun tidak menyebabkan celaka, hanyalah susah sebentar yang kemudian akan senang lagi.” Maka ia bisa menantangnya: “Silakan keinginan, berusahalah mati-matian mencari senang-senang abadi, dan berdayalah mati-matian menolak susah abadi, pastilah tidak berhasil. Kamu (keinginan) tidak mengkhawatirkan lagi”.

Bila orang dapat meyakinkan keinginannya sendiri demikian, lenyaplah rasa prihatin. Berbareng lenyapnya prihatin, tumbuhlah si pengawas keinginannya sendiri yang mengerti keinginannya sendiri.

Benih Pengetahuan

Si pengawas keinginannya sendiri ini ialah rasa aku, rasa ada. Orang itu tentu berasa aku, tidak bisa tidak berasa aku. Setiap berasa aku tentu berasa ada. Berasa aku tetapi tidak berasa ada, tidaklah demikian.

Si pengawas itu abadi karena ia itu barang asal. Barang asal itu tidak ada asalnya untuk membuatnya, tetapi malahan sebagai asal dari semua barang dan hal. Ia itu asalnya rasa aku-senang, aku-susah. Si pengawas ini abadi dalam mengawasi keinginannya sendiri yang bersifat sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret dengan rasa sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Rasa abadi yang mengawasi keinginannya sendiri itu, ialah abadi senang dan abadi bahagia.

Ketika si pengawas belum timbul, orang merasa “akulah berkeinginan, aku senang, aku susah.” Ia itu masih sebagai benih pengetahuan yang mengetahui tindak-tanduk manusia, serta belum timbul rasa senang dan bahagia. Wujudnya si pengawas ketika itu belum timbul, tetapi masih sebagai benih ialah seperti contoh berikut ini. Misalnya orang ingin buang air, dalam diri orang itu ada yang mengetahui dan mengerti “Aku ini tergesa-gesa menuju ke kakus, pastilah ingin buang-air.” Yang mengerti bahwa dirinya ingin buang air ini, tidaklah ikut berkeinginan buang air, akan tetapi hanya mengerti kehendaknya saja, yaitu si pengawas ketika belum tumbuh tetapi masih sebagai benih pengetahuan.

Contoh lain yang lebih jelas ialah orang yang makan cabe merasa pedas. Dalam diri orang itu ada yang mengetahui dan mengerti “Aku ini megap-megap mencari minuman, tentulah kepedasan.” Yang mengerti bahwa dirinya kepedasan ini tidaklah turut kepedasan, melainkan mengerti bahwa dirinya kepedasan, yaitu ketika si pengawas belum timbul tetapi masih sebagai benih pengetahuan.

Contoh lain yang lebih dekat, misalkan orang merasa malu, dalam diri orang itu tentu ada yang mengetahui dan mengerti: “Aku ini pasti mendapat malu, karena meringis-ringis dan tidak berani keluar rumah.” Yang mengerti dirinya memperoleh malu ini, tidaklah turut merasa malu, melainkan mengertinya saja, yaitu ketika si pengawas belum timbul, tetapi masih sebagai benih pengetahuan. Dan orang merasa “Akulah berkeinginan, yang senang, yang susah, yang malu, yang kepedasan, yang ingin buang air, adalah aku.”

Bila si pengawas sudah timbul, lenyaplah rasa prihatin, kemudian orang merasa “Aku bukanlah keinginan”, dari sini ia akan merasa “Yang senang dan susah bukanlah aku”, dari sini ia merasa “Yang malu, yang kepedasan, yang ingin buang air bukanlah aku.”

B a h a g i a

Maka orang akan merasa “Aku mengawasi keinginan, aku senang, aku bahagia.” Bila orang sudah mempunyai rasa “Aku mengawasi keinginan, aku senang, aku bahagia”, maka dalam mengawasi keinginannya sendiri dan perjalanan hidupnya sendiri, ia merasa “Itu bukanlah aku.” Begitu juga dalam menanggapi dunia dengan segenap isinya dan semua kejadian-kejadian, orang pun merasa “Itu bukanlah aku.”

Demikian rasa aku itu bahagia dan abadi. Karena itu, di mana saja, kapan saja, bagaimana saja, bahagialah orang itu. Demikianlah pengetahuan orang hidup bahagia.

Kategori:Budoyo
  1. 6 Agustus, 2008 pukul 10:06 pm

    wew… baru nemu nih. salam kenal

  1. 15 September, 2008 pukul 8:22 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: