Beranda > Budoyo > Serat Kalatidha

Serat Kalatidha

Kalatidha bukanlah karya Rangga Warsita yang terpanjang. Syair ini hanya terdiri dari 12 bait dalam metrum sinom. Kala tidha secara harafiah artinya adalah “zaman gila” atau jaman édan seperti ditulis oleh Rangga Warsita sendiri. Konon Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisir keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. Saat itu Rangga Warsita merupakan pujangga kerajaan di Keraton Kasunanan Surakarta. Ia adalah pujangga panutup atau “pujangga terakhir”. Sebab setelah itu tidak ada “pujangga kerajaan” lagi.

Bait Serat Kalatidha yang paling dikenal adalah bait ke-7. Sebab bait ini adalah esensi utama syair ini. Amanat syair ini bisa diringkas dalam satu bait ini.

Bahasa Jawa Alih bahasa
Amenangi jaman édan, Menyaksikan zaman gila,
éwuhaya ing pambudi, serba susah dalam bertindak,
mélu ngédan nora tahan, ikut gila tidak akan tahan,
yén tan mélu anglakoni, tapi kalau tidak mengikuti (gila),
boya kéduman mélik, tidak akan mendapatkan bagian,
kaliren wekasanipun, kelaparan pada akhirnya,
ndilalah kersa Allah, namun telah menjadi kehendak Allah,
begja-begjaning kang lali, sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
luwih begja kang éling klawan waspada. akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Ketenaran Serat Kalatidha juga mencapai kota

Leiden, negeri Belanda. Di sini petikan dari Serat Kalatidha dilukis di sebuah tembok rumah.

 

Ini adalah Budaya bangsa, peninggalan Leluhu r bangsa Indonesia, Wajib hukumnya bagi generasi mudah menggali budaya sendiri.

karena itulah identitas kita, jati diri kita dan eksistensi kita.

bukan mengikuti budaya barat, karena itu identitas mereka (bangsa barat).

Kategori:Budoyo
  1. Suparmin Sunjoyo
    5 Januari, 2011 pukul 11:40 am

    Keadaan zaman sekarang, sejak sepuluhan tahun yang lalu terutama sampai sekarang 5 Januari 2011, zamannya makin edan. Para pejabat, penggede, pengusdaha tidak punya malu lagi untuk berbuat yang tidak baik: korupsi, bohong, tidak memikirkan rakyatnya, tidak/kurang tanggung jawab, tidak/kurang kompeten di bidang kerjanya
    dll.

  2. ratna
    26 April, 2012 pukul 8:21 pm

    sejatinya sama… sebenarnya sungguh kaya budaya dan ajaran2 luhur di ulnegeri kita yg tidak diangkat atau dianggap sampah oleh masyarakat terutama pemerintah… skgpun jaman edan… dan hanya org2 yg betul2 ingat Tuhanlah yg tidak ikut Edan….
    trima kasih atas tulisannya….

  3. tri wardono
    8 Maret, 2014 pukul 8:54 am

    ya,,,sebagai generasi penerus aku berusaha mempelajari arti dari sejarah leluhurku,,,supaya dapat melangkah kedpan menjadi pribadi yang baik,,sekarang ini banyak yang yang meninggalkan sejarah dan budaya,,mereka belum mengerti makna dari sebuah serat tpi sdah menganggap tak ada artinya,,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: