Beranda > Tasawuf > wejangan Dewo Ruci

wejangan Dewo Ruci

     dewaruci.jpgTermangu sang bima di tepian samudera, dibelai kehangatan alun ombak setinggi betis, tak ada lagi tempat bertanya, sesirnanya sang naga nemburnawa, dewaruci, sang marbudyengrat, memandangnya iba dari kejauhan, 
tahu belaka bahwa tirta pawitra memang tak pernah ada
dan mustahil akan pernah bisa ditemukan 
oleh manusia mana pun. 
menghampir  sang dewa ruci sambil menyapa:
'apa yang kau cari, hai werkudara, 
hanya ada bencana dan kesulitan yang ada di sini
di tempat sesunyi dan sekosong ini'
 
terkejut sang sena dan mencari ke kanan kiri 
setelah melihat sang penanya ia bergumam: 
'makhluk apa lagi ini, sendirian di tengah samudera sunyi
kecil mungil tapi berbunyi pongah dan jumawa?
 
serba sunyi di sini, lanjut sang marbudyengrat
mustahil  akan ada sabda keluhuran di tempat seperti ini
sia-sialah usahamu mencarinya tanpa peduli segala bahaya
 
sang sena semakin termangu menduga-duga, 
dan akhirnya sadar bahwa makhluk ini pastilah seorang dewa
ah, paduka tuan, gelap pekat rasa hatiku. 
entahlah apa sebenarnya yang aku cari ini.
dan siapa sebenarnya diriku ini
 
ketahuilah anakku, akulah yang disebut dewaruci, atau sang marbudyengrat
yang tahu segalanya tentang dirimu
anakku yang  keturunan hyang guru dari hyang brahma, 
anak kunti, keturunan wisnu yang hanya beranak tiga, yudistira, dirimu, dan janaka.
yang bersaudara dua lagi nakula dan sadewa dari ibunda madrim si putri mandraka. 
datangmu kemari atas perintah gurumu dahyang durna
untuk mencari tirta pawitra yang tak pernah ada di sini
 
bila demikian, pukulun, wejanglah aku seperlunya 
agar tidak mengalami kegelapan seperti ini
terasa bagai keris tanpa sarungnya
 
sabarlah anakku,.memang berat cobaan hidup
ingatlah pesanku ini  senantiasa
jangan berangkat sebelum  tahu tujuanmu, 
jangan menyuap sebelum mencicipnya. 
tahu hanya berawal dari bertanya, bisa berpangkal dari meniru, 
sesuatu terwujud hanya dari tindakan. 
 
janganlah bagai orang gunung membeli emas,
mendapat besi kuning pun puas menduga mendapat emas 
bila tanpa dasar, bakti membuta pun akan bisa menyesatkan
 
duh pukulun, tahulah sudah di mana salah hamba 
bertindak tanpa tahu asal tujuan
sekarang hamba pasrah jiwaraga terserah paduka.
 
nah, bila benar ucapanmu, segera masuklah ke dalam diriku.
lanjut sang marbudyengrat
 
sang sena tertegun tak percaya mendengarnya
ah, mana mungkin hamba bisa melakukannya 
paduka hanyalah anak bajang sedangkan tubuh hamba  sebesar bukit
kelingking pun tak akan mungkin muat.
 
wahai werkudara si dungu anakku, 
sebesar apa dirimu dibanding alam semesta? 
seisi alam ini pun bisa masuk ke dalam diriku, 
jangankan lagi dirimu yang hanya sejentik noktah di alam.
 
mendengar ucapan sang dewaruci sang bima merasa kecil seketika, 
dan segera melompat masuk ke telinga kiri sang dewaruci 
yang telah terangsur ke arahnya
 
heh, werkudara, katakanlah sejelas-jelasnya 
segala yang kau saksikan di sana
 
hanya tampak samudera luas tak bertepi, ucap sang sena
alam awang-uwung tak berbatas hamba semakin bingung 
tak tahu mana utara selatan atas bawah depan belakang
 
janganlah mudah cemas, ujar sang dewaruci
yakinilah bahwa di setiap kebimbangan 
senantiasa akan ada pertolongan dewata
 
dalam seketika sang bima menemukan kiblat dan melihat surya
setelah hati kembali tenang tampaklah sang dewaruci di jagad walikan.
 
heh, sena! ceritakanlah dengan cermat segala yang kau saksikan!
 
awalnya terlihat cahaya terang memancar, kata sang sena
kemudian disusul cahaya hitam, merah, kuning, putih. 
apakah gerangan semua itu?
 
ketahuilah werkudara, cahaya terang itu adalah pancamaya, 
penerang hati, yang disebut mukasipat (mukasyafah), 
penunjuk ke kesejatian, pembawa diri ke segala sifat lebih. 
cahaya empat warna, itulah warna hati
hitam merah kuning adalah penghalang cipta yang kekal, 
hitam melambangkan nafsu amarah, merah nafsu angkara, kuning nafsu memiliki. 
hanya si putih-lah yang bisa membawamu 
ke budi jatmika dan sanggup menerima sasmita alam, 
 
namun selalu terhalangi oleh ketiga warna yang lain
hanya sendiri tanpa teman melawan tiga musuh abadi.
hanya bisa menang dengan bantuan sang suksma. 
adalah nugraha bila si putih bisa kau menangkan
di saat itulah dirimu mampu menembus segala batas alam tanpa belajar.
 
duhai pukulun, sedikit tercerahkan hati hamba oleh wejanganmu
setelah lenyap empat cahaya, muncullah nyala delapan warna, 
ada yang bagai ratna bercahaya, ada yang maya-maya, ada yang menyala berkobar.
 
itulah kesejatian yang tunggal, anakku terkasih
semuanya telah senantiasa ada dalam diri setiap mahluk ciptaan. 
sering disebut jagad agung jagad cilik
 
dari sanalah asal kiblat dan empat warna hitam merah kuning putih 
seusai kehidupan di alam ini semuanya akan berkumpul menjadi satu, 
tanpa terbedakan lelaki perempuan tua muda besar kecil kaya miskin,
akan tampak bagai lebah muda kuning gading
amatilah lebih cermat, wahai werkudara anakku
 
semakin cerah rasa hati hamba. 
kini tampak putaran berwarna gading, bercahaya memancar. 
warna sejatikah yang hamba saksikan itu?
 
bukan, anakku yang dungu, bukan,
berusahalah segera mampu membedakannya
zat sejati yang kamu cari itu tak tak berbentuk tak terlihat, 
tak bertempat-pasti namun bisa dirasa keberadaannya di sepenuh jagad ini. 
 
sedang putaran berwarna gading itu adalah pramana
yang juga tinggal di dalam raga namun bagaikan tumbuhan simbar di pepohonan
ia tidak ikut merasakan  lapar kenyang haus lelah ngantuk dan sebagainya. 
dialah yang menikmati hidup sejati dihidupi oleh sukma sejati, 
ialah yang merawat raga
tanpanya raga akan terpuruk menunjukkan kematian.
 
pukulun, jelaslah sudah  tentang pramana dalam kehidupan hamba
lalu bagaimana wujudnya zat sejati itu?
 
itu tidaklah mudah dijelaskan, ujar sang dewa ruci, gampang-gampang susah
sebelum hal itu dijelaskan, kejar sang bima, hamba tak ingin keluar dari tempat ini
serba nikmat aman sejahtera dan bermanfaat terasa segalanya.
 
itu tak boleh terjadi, bila belum tiba saatnya, hai werkudara
mengenai zat sejati, engkau akan menemukannya  sendiri
setelah memahami tentang penyebab gagalnya segala laku serta bisa bertahan dari segala goda, 
di saat itulah sang suksma akan menghampirimu, 
dan batinmu akan berada di dalam sang suksma sejati 
 
janganlah perlakukan pengetahuan ini seperti asap dengan api, 
bagai air dengan ombak, atau minyak dengan susu 
perbuatlah,  jangan hanya mempercakapkannya belaka
jalankanlah sepenuh hati setelah memahami segala makna wicara kita ini
jangan pernah punya sesembahan lain selain sang maha luhur
pakailah senantiasa keempat pengetahuan ini
pengetahuan kelima adalah pengetahuan antara,
yaitu mati di dalam hidup, hidup di dalam mati
hidup yang kekal, semuanya sudah berlalu
tak perlu lagi segala aji kawijayan, semuanya sudah termuat di sini.
 
maka habislah wejangan sang dewaruci, 
sang guru  merangkul sang bima dan membisikkan segala rahasia rasa
terang bercahaya seketika wajah sang sena menerima wahyu kebahagiaan
bagaikan kuntum bunga yang telah mekar.
menyebarkan keharuman dan keindahan memenuhi alam semesta
 
dan blassss . . . !
sudah keluarlah sang bima dari raga dewaruci sang marbudyengrat
kembali ke  alam nyata di tepian samodera luas sunyi tanpa sang dewaruci 
 
sang bima melompat ke daratan dan melangkah kembali 
siap menyongsong dan menyusuri rimba belantara kehidupan
 
tancep kayon

 

Kategori:Tasawuf
  1. 26 Juni, 2009 pukul 11:39 pm

    setahu saya….
    nafsu-AMARAH itu simbol-nya merah.
    bukan HITAM.

    SUWUN.
    Regard,

    (Jagad-Kahiyangan)

  2. 27 Juni, 2009 pukul 12:42 am

    blog ‘wejangan-Dewa-Ruci’ ini saya muat di;

    ‘Jagad-Kahiyangan~POST’
    add ‘Jagad-BUDAYA’.

    please, click link here;
    http://www.Jagad-Kahiyangan.blogspot.com.

    suwun.
    Regard,

    (Jagad-Kahiyangan)

  3. 11 Juli, 2009 pukul 8:03 pm

    wejangan ini sangat berarti bila mau memahami apa maksud yang yang terkandung dalam isi wejangan tersebut,,. Woy,,, Saya sangat saluut……!!!!!!!

  4. joko
    22 Maret, 2010 pukul 10:03 am

    bagus banget artikelnya,jadi nambah wawasan

  5. joko riyadi
    4 April, 2010 pukul 6:21 am

    artikelnya bagus, jadi nambah wawasan…

  6. 26 Mei, 2013 pukul 1:00 am

    semua ajaran Jawa sebenarnya memiliki multi tafsir. pemaknaannya sangat tergantung pada bekal dan latar belakang penafsirnya. warna poleng, dalam dewa ruci dapat ditafsirkan sebagai siklus yoga: hitam adalah besi = dwapara yoga, merah adalah tembaga = kali yoga, putih adalah perak = treta yoga, dan kuning adalah emas = kertayoga. bisa juga diartikan sebagai penjuru mata angin: merah adalah barat, putih adalah selatan, kuning adalah timur, dan hitam adalah utara. dari berbagai penafsiran tersebut pada dasarnya keempat warna poleng merupakan simbol dari semesta. oleh karena itu keberadaannya sangat penting bagi upacara ritual masyarakat Bali. dan Jawa tradisi karena berpijak pada falsafat hidup “memayu hayuning bawana”.

  7. dharmajati
    20 Juli, 2013 pukul 3:22 pm

    Gkgkgk…..Originalnya kita-kita ini memang ya orang Jowo……
    Jadi ketika Kejawen/apapun hasil survei pendahulu kita….masuk ke gendang kita ya langsung MAK PLEK…NEMPEL
    Koyok wedus mulih nang kandange…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: