Beranda > Catatan Harian, Opiniku > Sampai Kapan UNAS dijaga ketat?

Sampai Kapan UNAS dijaga ketat?

Sampai kapan? Jawabnya, sampai nanti..sampai mati (semoga jawaban ini hanya di lirik lagu yang dibawakan Letto). Ya begitulah kenyataanya sampai saat ini setiap kali ada UNAS entah SD SMP atau SMU semuanya diributkan soal bagaimana mensiasati supaya siswa tidak saling mencotek atau mengkanibal jawaban temannya. Wah..jadi intinya semuanya soal contek-mencotek.Mencotek yang satu kalimat ini sepertinya sering kita dengar dan kayaknya lazim kita lakukan. Oke kalau begitu kita bahas kalimat Contek (mencotek orang yang melakukan kegiatan contek), setidaknya ada dua hal yang perlu digaris bawahi dalam perilaku mencotek, yaitu: 

  1. Perilaku mencotek setidaknya mewakili atau cerminan bahwa perilaku kita sudah tidak jujur. Ya tidak jujur bahwa kita tidak mampu, tidak jujur bahwa kita memang belum tau apa yang di tanyakan akhirnya menutupinya dengan cara mencotek..meskipun kita tidak paham yang penting jawaban penuh.
    wis pokoknya yang penting terisi paham gak paham urusan nanti. Padahal pendidikan itu pertahanan terakhir dalam membentuk perilaku.                                                    Lah kalo begitu ini salah siapa?Siswa, Guru, atau masyarakat. Ya…kayaknya semua salah..Oke mari kita kupas satu-satu. Kenapa guru salah? Salahnya begini sering kali Guru tidak menekankan nilai-nilai kejujuran kepada siswa. Pola pembelajaran benar dan salah bukan di tekankan pada moral siswa. Misal begini murid mengerjakan soal trus jawabannya salah maka penilaian guru, anak itu salah, begitu sebaliknya murid mengerjakan soal trus jawabannya benar (missal: dikasih tau teman atau nyontek) maka penilaian guru anak itu benar. Lah ini
    kan sudah salah tidak ada penanaman nilai kejujuran, yang penting jawabanmu benar entah itu dari mana. Akhirnya perilaku Siswa dengan sendirinya terbentuk bahwa yang penting hasil tidak perduli bagaimana prosesnya yang penting bener.Padahal seharusnya, biarkan salah dulu yang penting jujur (wong namanya belajar) nanti pelan pelan juga akhirnya bisa benar melalui proses. Ya proses untuk belajar sampai benar, dengan kejujuran sebagai landasannya. Akhirnya juga bermanfaat, siswa dengan sendirinya akan pandai karena belajarnya di hargai meskipun awalnya salah..,Lah yang terjadi sekarang tidak demikian siswa males untuk belajar kenapa? Logikanya begini “ ngapain aku belajar wong proses belajarku tidak dihargai yang dilihat jawabanku yang penting benar ngapain aku susah-susah belajar wong kalo salah dimarahi, lebih baik nyotek yang penting jawaban benar peduli amat jawabanku dari mana”. Lah kalau begini yang salah siapa? Ya semuanya ikut andil salah, wong cara pandang masyarakat kita yang dilihat selalu hasil,
    wis gak perduli prosesnya gimana yang penting hasil.
    Wis yang penting kaya entah dari mana, korupsi kek, pelihara tuyul kek, ngrampok ndak peduli yang penting kaya…………Jadi jangan heran UNAS sampai dijaga POLISI, wong dasarnya kita sudah tidak percaya kepada SISWA, loh ini kan konyol kita dari awal sudah mengetahui bahwa mental anak-anak kita sudah bobrok, sudah tidak jujur tapi usaha untuk memperbaiki itu hampir nol. Kita sudah tau bahwa bibit curang/korupsi sudah ada sejak dini, tapi kita tidak melakukan perubahan yang radikal/ekstrim. Kita tidak yakin pada kejujuran anak-anak kita. Lah kalau sudah besar gimana? Wah tidak usah di bahas korupsi, markup dana itu jadi hal biasa……Ngoce thok solusinya gimana? Gampang: beri kepercayaan pada siswa biarkan mengerjakan soal dengan tenang biarkan jawaban keluar dari pemikiran sendiri. Lah bagaimana bisa jawaban sendiri wong soalnya pilihan? Lah ini lagi, salah kita, kita sudah dari kecil diajari untuk menerima pilihan yang sudah kita plot (jawaban multiple choice)tidak diberi kebebasan untuk berkreasi…..wah ini masih panjang lain kali dibahas khusus soal ini oke. kembali ke UNAS.

  2. Setelah mencontek, hal lain yang perlu digaris bawahi adalah: soal yang diberikan, memberikan peluang bagi siswa untuk mencotek. Lah solusinya bagaimana? Di negeri ini banyak orang pintar (jika pintar diukur dari Titel/gelar—entah gelar itu dari mana ndak perduli) apa tidak bisa/sanggup membikin soal yang kira-kira jawabannya itu mendidik nalar siswa, pendapat siswa.

Contoh soal begini: Jika anda memiliki uang Rp 1000 apa yang akan anda lakukan? 

     Maka sudah pasti jawaban masing-masing anak berbeda, ada yang dibelikan bakso, ditabung, dikasihkan ibu. Loh kalu begitu ngukur  bener salahnya jawaban bagaimana? Guru kreatif dong, yang kita berikan prioritas jawaban. Misal, jawaban  dikasihkan ibu kita skor 10, ditabung kita skor 8, beli bakso kita skor 7. lah sudah pasti jawaban anak yang uangnya dikasikan ibu mendapatkan nilai yang lebih besar. Trus dari setiap pertanyaan, skor yang didapat dirata rata trus dikonversi ke angka 1-100 maka dengan sendirinya siswa akan mendapatkan nilai yang berbeda-beda. Dan juga anak anak yang memiliki nilai paling besar itulah anak yang luhur budinya…inilah pendidikan sesungguhnya…  Saya yakin ribuan professor di negeri ini mampu membikin soal seperti ini….yang saya tidak yakin apakah mereka semua mau memperbaiki system pendidikan kita………… Pendapat anda?  
 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: